puisi brengsek

Kebrengsekannya tidak mengurangi pemaknaan. Mereka hanyalah perkebunan kata-kata, yang kadang rimbun kadang kering, tergantung musim dan kecocokan pupuk.

Jumat, April 26, 2013

Pejam

Asap kopi ini matamu
Menusuk rusuk injak injak isi kepala yang tak berpenghuni

Gerimis ini senyumu,
Memukul-mukul kesadaran menyeruak nalar yang sempat tak bernyawa

Senja ini adalah kau
Antarkan dua setengah kilogram rindu yang tidak sempat ditawar
dimamahbiaki burahol di 11.13.00

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)

mencari

yang sudah - sudah

  • ►  2008 (44)
    • ►  Mei (11)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Juli (12)
    • ►  Agustus (11)
    • ►  September (1)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  November (3)
    • ►  Desember (1)
  • ►  2009 (10)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  November (5)
    • ►  Desember (1)
  • ►  2010 (7)
    • ►  Januari (1)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  September (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  November (1)
  • ►  2011 (12)
    • ►  Februari (1)
    • ►  April (1)
    • ►  November (5)
    • ►  Desember (5)
  • ►  2012 (1)
    • ►  Januari (1)
  • ▼  2013 (6)
    • ▼  April (6)
      • Sah
      • Berkeliar-liar
      • Pejam
      • Frustasi 2
      • cafetaria
      • Emsi
  • ►  2015 (1)
    • ►  Juli (1)

teman - teman

  • precious world in my ordinary life
  • Listya
  • hitam :: jingga
  • Siska Suryani
  • Di Balik Awan
  • the afternoon swings
  • It's me...Fani...
  • Lights Will Guide You Home ...
  • Anggiara
  • Sinaran
  • Ordinary people
  • PUISI DALAM WAKTU
  • abahsangpenyamunyangjarangmanyun
  • A.M Arifin
  • Linkbee: http://mmugnitaufik.blogspot.com
Tema PT Keren Sekali. Diberdayakan oleh Blogger.